Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Adhie Massardi Luncurkan Buku Puisi 'Pengantar Pergantian Kekuasaan' di Jaya Suprana School of Performing Arts

LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Kamis, 10 November 2022, 21:21 WIB
Buku kumpulan puisi karya aktivis cum penyair Adhie Massardi berjudul "Pengantar Pergantian Kekuasaan" diluncurkan di Jaya Suprana School of Performing Arts, Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis sore (10/11).

Peluncuran buku yang diterbitkan Booknesia (RMOL Network) ini dihadiri sejumlah tokoh politik nasional seperti Amien Rais, Gatot Nurmantyo, Priyo Budi Santoso, Bachtiar Chamsyah, Jumhur Hidayat, Ubeidillah Badrun, Arief Puyouno, Suryo Prabowo, Refly Harun hingga Kak Seto. Dua saudara Adhie Massardi, Norca Massardi dan Yudhistira Massardi juga menghadiri peluncuran karya adik mereka itu.

Di atas panggung Jaya Suprana yang juga merupakan pendiri Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) yang menjadi moderator duduk bersebelahan dengan sang penyair.

Dalam sambutan pengantarnya, Adhie Massardi menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Jaya Suprana dan Ibu Aylawati Jaya Suprana yang telah memberikan kesempatan kepadanya untuk meluncurkan buku itu di Jaya Suprana School.

"Saat saya ketemu Bu Ayla dan Pak Jaya untuk memberikan buku ini, ditanya sudah launching belum? (Saya jawab) belum. Kemudian Pak Jaya langsung menyiapkan untuk launching buku ini. Terimakasih, alhamdulillah. Kenapa Pak Jaya bersedia? Saya berpikir karena covernya ada Ayam Jagonya,” kata Adhie disambut tawa hadirin yang tahu bahwa Jaya Suprana juga dikenal sebagai tokoh di balik produsen jamu “Ayam Jago”.  

Adhie juga menceritakan sekelumit pengalaman politik dirinya, termasuk saat mendampingi Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai jurubicara. Gus Dur, kenangnya, seorang politisi yang konsisten menjaga ruang demokrasi. Sedemikian konsistennya, Gus Dur sama sekali tidak berniat untuk membungkam pihak-pihak yang menyerangnya di MPR RI dan DPR RI ketika ia berkuasa.

“Biarin aja. DPR tugasnya begitu. Kalau kita bungkam, nanti tidak akan berani lagi DPR bicara,” ujar Adhie menirukan kata-kata Gus Dur pada masa itu.

Dia juga mengatakan, Gus Dur pun melarang orang-orang di dekatnya untuk ikut campur dalam pertarungan politik antara kelompok oposisi dan Istana Negara.
 
“Pekerjaan saya itu banyak. Mula-mula jadi wartawan, kemudian jadi penulis, sastrawan. Terakhir jadi jurubicara. Ternyata yang membanggakan itu jadi penyair. Karena itu Pak Jaya, kalau saya diminta untuk memilih jalan hidup, saya akan memilih jalan yang itu lagi. Menjemput takdir saya sebagai penyair,” urai Adhie.

Setelah itu ia pun membacakan puisi berjudul “Takdir Penyair”.

Penyair Pergerakan


CEO RMOL Network Teguh Santosa yang menerbitkan buku kumpulan puisi Adhie Massardi dalam sambutannya mengatakan, Adhie Massardi adalah satu dari sedikit penyair dari kaum pergerakan yang semakin langka di negara ini.

“Saya kira setelah WS Rendra kita mengalami defisit penyair yang bisa bersentuhan dengan akar persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Dan Adhie Massardi merupakan salah satu dari yang sedikit itu, atau dari yang hampir tidak ada itu,” ujar Teguh.

Dia mengatakan, mengutip epilog yang ditulis Rizal Ramli di dalam buku itu, bahwa puisi-puisi Adhie Massardi adalah rekaman kemarahan atas berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

"Selain Mas Adhie Massardi, saya kira saya adalah orang yang paling berbahagia karena akhirnya buku ini diluncurkan. Buku ini Pak Jaya sudah selesai bulan Desember tahun lalu,” ujarnya lagi.

Teguh juga menceritakan mengapa ada gambar ayam jago di sampul buku kumpulan puisi Adhie Massardi.

Katanya, tahun lalu Adhie Massardi menemui untuk membicarakan penerbitan antologi puisi itu. Kandidat cover adalah matahari terbit yang menggambarkan terbitnya hari baru.

“Matahari kalau setengah begini dia bisa tenggelam, bisa juga terbit. Maka harus ada satu unsur yang menandakan bahwa ini adalah matahari terbit. Dan unsur itu adalah ayam jago,” jelasnya lagi.

Setelah memberikan sambutan, Teguh didampingi dua aktivis lain yang ikut memproduksi buku puisi ini, Arief Gunawan dan Yos Nggarang, memberikan buku kepada empat tokoh, Amien Rais, Gatot Nurmantyo, Suryo Prabowo, dan Bachtiar Chamsyah.

Pembacaan Puisi

Setelah peluncuran antologi puisi, sejumlah tokoh yang hadir ikut membaca puisi yang dituliskan Adhie Massardi.

Refly Harun, misalnya, membaca puisi “Ayat Ayat Revolusi”, Amien Rais membacakan puisi “Sajak Pengantar Pergantian Kekuasaan”.

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo membaca pusi “Catatan Para Pahlawan”. Dia mengatakan bahwa dalam syair tersebut ada makna filosofi mendalam tentang persatuan dan ketaatan kepada ulama dalam revolusi jihad yang mampu mengantar bangsa Indonesia meraih kejayaan.

"Tapi yang paling penting adalah bahwa proses revolusi jihad itu adalah proses bersatunya para ulama, san proses pertempuran di Surabaya itu adalaha kepatuhan umat terhadap ulama dan akumulasi semuanya itu adalah yang menamakan bangsa ini,” ucapnya.

"Saya punya keyakinan seandainya para ulama atau tokoh-tokoh agama baik Kristen, Islam, Budha, Hindu, Konguchu bersatu dan para umat patuh kepada para tokoh dan ulama, para pendeta, dan sebagainya, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang aman sesuai dengan yang diharapkan syair ini,” imbuhnya.

Selain itu Suryo Prabowo juga membacakan puisi “Percakapan dengan John Lennon”.
EDITOR: IDHAM ANHARI

ARTIKEL LAINNYA