Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Jaya Suprana 73 Tahun Cinta Indonesia dan Undangan dari Korea Utara

OLEH: TEGUH SANTOSA
  • Jumat, 28 Januari 2022, 13:44 WIB
KEMARIN, Pak Jaya Suprana berulang tahun. Yang ke-73. Budayawan, pianis, komponis, kartunis, penulis, humoris, pencatat rekor, ahli kekeliruan, dan pemilik seabrek talenta lainnya ini lahir di Denpasar, 27 Januari 1949.

Itu persis 193 tahun setelah komposer Wolfgang Amadeus Mozart lahir di Salzburg, di Holy Roman Empire, sebuah negeri yang pada masa itu meliputi Jerman, Italia, dan Burgundy di Prancis kini.

Mozart adalah salah seorang komposer favorit Jaya Suprana. Pendiri Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) ini menggelari Mozart sebagai mahakomposer, merujuk pada karya-karya besar yang diciptakannya

Karena kecintaannya pada musik, piano, dan kekagumannya pada Mozart, pada tahun 1970 Jaya Suprana melabuhkan hati dan pikirannya di bidang pianoforte. Ia  memperdalam teknik pianonya di Musikhochschule Muenster dan Forlkwanghochschule Essen di Jerman. Ia lulus dengan predikat summa cum laude.

Karya-karya Jaya Suprana telah ditampilkan di berbagai negara seperti Jerman, Belanda, Polandia, Amerika Serikat, Hongkong, Singapura, Selandia Baru, Jepang, Sri Lanka, Bangladesh, Kenya, Aljazair, juga Spanyol, Hungaria, dan Austria.

Ulang tahun Jaya Suprana kali ini diselenggarakan di Gedung Kesenian Jakarta, di Passer Baru, dalam sebuah konser yang diberi tajuk “73 Tahun Cinta Indonesia” dan dirangkaikan dengan ulang tahun ke-32 MURI dan ulang tahun ke-13 Jaya Suprana School of Performing Arts.

Konser hebat ini dimeriahkan penampilan berbagai kelompok dan individu seperti Bedhayan Tembang Alit yang ikut diperkuat oleh Aylawati Sarwono, istri Jaya Suprana, juga kelompok musik Playset Band yang dipimpin mantan KSAU Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim, dan Orkes Keroncong Arum Puspita yang dipimpin wartawan senior Ninok Leksono.

Pengisi acara lainnya adalah pianis Johannes S. Nugroho, Ade “Wonder” Irawan, Michael Anthony Kwok, M. Iqbal Siddiq, Armonia Choir Stefani S & Baruno Wibowo, Ciliwung Merdeka Percussion, dan banyak lagi.

Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan dan ucapan selamat ulang tahun disampaikan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui rekaman yang diputar di layar utama.  Sementara sambutan penutup disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, juga melalui rekaman video.

Di antara penonton konser yang hadir tampak Menko Polhukam Moh. Mahfud MD, mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn.) Gatot Nurmantyo, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng. Dua putri proklamator Bung Hatta, yakni Meutia Hatta dan Halida Hatta, juga menikmati konser itu.

***

Saya diundang Pak Jaya untuk menghadiri konser istimewa itu jauh-jauh hari lalu.

Kamis pagi (27/1), Ibu Liana dari MURI mengirimkan file pdf buku program konser “73 Tahun Cinta Indonesia” via WA.

Saat membuka-buka buku program itu, dan membaca satu demi satu pengisi acara, saya teringat pesan yang dititipkan Duta Besar Republik Rakyat Demokratik Korea, An Kwang Il.

Dalam pertemuan hari Senin (24/1) di Kedubes Korea Utara, Dubes An Kwang Il menyampaikan keinginan mengundang tim kesenian yang diasuh Jaya Suprana untuk tampil dalam Spring Festival 2022 yang akan diselenggarakan secara virtual di bulan April nanti.

Spring Festival adalah kegiatan kebudayaan internasional yang diselenggarakan di Pyongyang setiap dua tahun sekali. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai tim kesenian dari berbagai negara. Setelah tertunda akibat pandemi Covid-19, pemerintah Korea Utara berencana kembali menggelar festival itu tahun ini. Secara virtual. Karena Korea Utara masih menutup perbatannya demi menghindarkan penyebaran virus SARS CoV-2 dan berbagai variannya memasuki negeri itu.

Strategi tutup pintu Korea Utara ini terbilang berhasil. Sampai hari ini, Korea Utara masih belum memiliki kasus inveksi Covid-19. Korea Utara tidak sendirian. Ada belasan negara lain yang belum terinfeksi pandemi ini. Dua negara di daratan, dan lainnya adalah negara-negara kecil di tengah samudera.

***
 
Menurut Dubes An, tim kesenian yang ikut Spring Festival harus mengirimkan rekaman penampilan mereka ke Pyongyang untuk disiarkan dalam festival virtual.  

Di sisi lain, saya tahu, walau Jaya Suprana telah menginjakkan kaki di sekitar 80 negara di muka bumi dan menganggap semua negeri yang dikunjunginya indah, namun ada tempat khusus bagi Korea  Utara di salah satu sudut hatinya.

Saya pernah mendampingi Pak Jaya Suprana dan Ibu Aylawati Sarwono dalam perjalanan ke Korea Utara di bulan Agustus 2017.

Di sana, Jaya Suprana pun menemukan Indonesia dan menitikkan airmata untuk Indonesia kala mendengarkan anak-anak SMP Ryulgok Pyongyang menyanyikan beberapa lagu berbahasa Indonesia.

Sebelumnya, dalam penerbangan dari Beijing ke Pyongyang menggunakan pesawat Air Koryo, Jaya Suprana membaca berita di Pyongyang Times mengenai seorang pianis cilik dari Korea Utara, Choe Jang Hung, yang memenangkan sejumlah kompetisi di Marsawa, Moskow, dan Beijing. Kala itu usianya baru 13 tahun.

Saya yang tiba sehari lebih awal, setelah menempuh perjalanan dengan kereta api dari Beijing selama 27 jam, menyambut Jaya Suprana dan istri di Bandara Internasional Sunan, Pyongyang.

Setelah Sekretaris Perhimpunan Persahabatan Korea-Indonesa, Kim Jong A, menyerahkan karangan bunga selamat datang kepadanya, Jaya Suprana menoleh ke arah saya dan mengirimkan isyarat ingin membisikkan sesuatu.

Maka dia sampaikan hal itu, keinginannya mengundang sang pianis cilik ke Indonesia.

Keinginan itu saya sampaikan ke pihak Korea Utara yang menyambutnya dengan gembira dan bahagia.

Kami menyebutnya Konser Perdamaian. Diselenggarakan pada April 2018 di Gedung Kesenian Jakarta. Choe Jang Hung menjadi satu-satunya penampil dalam konser itu. Saya ingat, saat memberikan komentar atas penampilan Choe Jang Hung di atas panggung, Jaya Suprana sempat menitikkan airmata.

“Ini anak ajaib. Saya menyerah. Kemampuannya lebih tinggi dari saya,” ujar Jaya Suprana.

He is not a man, he is a superman,” sambungnya terharu.

***

Buku program konser “73 Tahun Cinta Indonesia” itu saya forward ke Sekretaris Dubes, Ri Chong Ryul, yang tidak lama kemudian mengirimkan pertanyaan kepada saya: “Apakah Dubes An bisa hadir untuk menyaksikan konser dan menyampaikan maksud mengundang tim kesenian Jaya Suprana ke Spring Festival?”

Saya forward pesan itu ke Jaya Suprana, dan langsung dibalas, “He is very very welcome, Pak Teguh.”

Jawaban itu saya forward ke Dubes An, dan kami berjanji bertemu setengah jam sebelum konser dimulai.

Saya tiba lebih dahulu di Gedung Kesenian Jakarta. Saat mengantre pemeriksaan swab antigen, Dubes An Kwang Il tiba. Kepada saya dia berbisik, ingin bertemu dengan Pak Jaya Suprana sebelum konser dimulai.

Di belakang panggung kami menemukan Pak Jaya Suprana sedang bersiap-siap memotong tumpeng dan kue ulang tahun di antara penari-penari yang akan mengisi acara. Juga ada seniman Erros Djarot dan wartawan senior Lukas Luwarso.

Dubes An menghampiri Jaya Suprana, dan menyampaikan maksudnya.

Airmata Jaya Suprana berbinar. Ini sebuah kehormatan, katanya.

Kepada para penari, dia menyampaikan, bahwa mereka diundang ikut Spring Festival secara virtual tahun ini. Dan, bila nanti pandemi berakhir, mereka diundang untuk tampil di Korea Utara.

Di upacara sederhana di belakang panggung itu, usai lagu Selamat Ulang Tahun yang diiringi petikan gitar Lukas Luwarso, Pak Jaya Suprana menyerahkan potongan pertama tumpeng kepada Dubes An Kwang Il. Lalu potongan pertama kue ulang tahun diserahkan ke Erros Djarot.

Adapun saya, dapat potongan keempat kue ulang tahun.
EDITOR: