Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Khofifah: Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif Jatim Diatas Rata-rata Nasional

LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA
  • Rabu, 03 November 2021, 14:53 WIB
Khofifah: Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif Jatim Diatas Rata-rata Nasional
Gubernur Jatim Khofifah saat bersama Kepala BPS Jawa Timur/Ist
Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif Provinsi Jawa Timur tahun 2020 melampaui pencapaian nasional.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Perencanaan Pembangunan Nasional nilai indeks ekonomi inklusif Jawa Timur mencapai 5,92 atau diatas rata-rata nasional yang mencapai 5,52.

Di Pilar 1 Pertumbuhan dan perkembangan perekonomian Jawa Timur tahun 2020 berada di angka 4,90 sementara nasional 4,64.

Begitu juga di pilar 2, dimana pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan Jawa Timur mencapai 6,52 atau jauh diatas nasional yang hanya 4,62.

Sementara itu, di pilar 3 dalam hal perluasan akses dan kesempatan Jawa Timur berhasil meraih angka 7,83, sedangkan nasional 6,56.

“Capaian ini merupakan prestasi membanggakan mengingat banyaknya indikator yang dijadikan pengukuran dalam indeks ini,” ungkap Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Kota Surabaya, usai rakor  terkait isu  dan langkah strategis sektor-sektor fundamental untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di Jawa Timur ,  Selasa (2/11).

Khofifah mengatakan, di tengah pandemi virus corona baru (Covid-19), Pemprov Jatim terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang menciptakan akses dan kesempatan yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat secara berkeadilan.

Selain itu, Pemprov Jatim juga berusaha meningkatkan kesejahteraan, dan mengurangi kesenjangan antar kelompok dan wilayah. Termasuk peningkatan akses ke sarana kesehatan dan pendidikan.

Khofifah memaparkan, Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif (IPEI) merupakan instrumen yang telah dikembangkan Kementerian PPN/Bappenas RI untuk mengukur, memantau dan mengendalikan kualitas pembangunan ekonomi dari tahun ke tahun.

IPEI terdiri dari tiga pilar utama, yaitu pertumbuhan dan perkembangan  ekonomi , pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan, dan perluasan akses dan kesempatan. Pilar utama ini dibagi lagi atas delapan pilar dengan 21 indikator.

Dua puluh satu indikator yang digunakan untuk mengukur IPEI tersebut, lanjut Khofifah, antara lain pertumbuhan PDRB riil per kapita, share sektor manufaktur terhadap PDB, rasio kredit perbankan terhadap PDRB nominal, persentase penduduk miskin, harapan lama sekolah hingga rasio jumlah rekening kredit perbankan UMKM terhadap rekening kredit keseluruhan.

“Dalam setiap rencana pembangunan kami selalu mengupayakan bagaima program yang digulirkan dapat mendorong pertumbuhan, mengurangi kemiskinan, buta huruf, beban utang, mencegah penyebaran penyakit, kesetaraan gender, dan menjaga kerusakan lingkungan. Saat ini kami tengah fokus pada upaya mereduksi jumlah kemiskinan ekstrem yang ada di Jawa Timur,” imbuhnya.

Di Jawa Timur, kata Khofifah, terdapat lima kabupaten yang saat ini  menjadi daerah pilot project percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrim  yaitu Bangkalan, Sumenep, Probolinggo, Bojonegoro dan Lamongan.

Intervensi yang dilakukan berbasis  tiga  strategi program percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem yaitu menurunkan beban pengeluaran, peningkatan pendapatan, meminimalkan wilayah kantong kemiskinan yang  diharapkan capaiannya dapat sesuai target.  

Khofifah menyebut, Pemprov Jatim telah menyiapkan sejumlah jurus untuk mencapai target yang telah ditetapkan Presiden Joko Widodo, bahwa Kemiskinan ekstrem harus bisa dihilangkan pada akhir 2024.

ARTIKEL LAINNYA