Pakar: Menumbuhkan Sifat Empati Adalah Bagian Dari Proses Pendidikan

Pakar Pendidikan, Prof Dr Sutarto Hadi/Repro

Jiwa patriotisme Pemuda Indonesia tidak diragukan lagi. Bangsa Indonesia telah banyak belajar dari para pendahulunya bagaimana menumbuhkan semangat patriotisme, persatuan dan sikap gotong royong.

"Bahkan sejak kecil kita diajarkan untuk memupuk sikap empati. Misalkan, orangtua mengajarkan kita untuk memberi kepada pengemis atau mengantarkan makanan kepada tetangga. Dan saat kita besar, para pemuda tetap mempraktekkan sikap empati itu untuk membantu sesama," ujar Prof Dr Ersis Warmansyah Abbas, dalam acara diskusi virtual yang diselenggarakan Kantor Berita Politik RMOL, Senin (22/2).

Ia mencontohkan, anak-anak muda bisa dengan mudah turun ke lapangan membantu korban banjir seperti yang terjadi baru-baru ini atau membantu dalam musibah bencana alam lainnya. Namun, ada hal yang mengganjal yang menjadi sorotannya. Ersis mengatakan, untuk hal-hal besar pemuda bisa menunjukkan empatinya, tetapi justru untuk hal-hal kecil malah sangat sulit. Salah satunya adalah soal contoh kebersihan toilet kampus dan kebersihan di lingkungan kampus yang dirasakan sangat kurang.

Bila melihat sekolah-sekolah di luar, Jepang misalnya, sangat terjaga kebersihannya. Pelajar dan mahasiswa di sana bisa menerapkan disiplin yang ketat sehingga suasana belajar tercipta nyaman.

Menanggapi hal itu, Prof Dr Sutarto Hadi yang menjadi narasumber acara diskusi 'Pemuda, Sumber Daya dan Masa Depan Sebuah Negara' mengatakan sifap empati dan bagaimana kita bersikap juga menjadi bagian dari proses pendidikan.

Pelaku kebijakan atau pengambil kebijakan harus membuat langkah strategis untuk bisa terus memupuk sifap empati dan hal-hal lain yang berkaitan dengan struktur kampus.

Infrastruktur kampus atau tempat belajar harus diciptakan sedemikian nyaman sehinga bisa menciptakan atmosfer yang baik untuk kegiatan-kegiatan belajar. Kantin yang bersih, toilet yang bersih, tersedianya tempat cuci tangan, dan ruang-ruang belajar yang bersih.

"Pada akhirnya memang pengambil kebijakan harus membuat program-program yang manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas, terutama mahasiswa. Karena kalau lembaga pendidikan itu kan sebenarnya kita memberikan pelayanan kepada para mahasiswa, bukan kita yang dilayani. Tetapi para dosen dan tenaga pendidikan itu yang seharus melayani mahasiswa sebenarnya. Nah, itu kuncinya di perubahan mindset dari minta dilayani menjadi melayani. Itu yang harus kita tumbuhkan kembali." 
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021

Artikel Lainnya

Uang Negara Diduga Mengalir Ke RS Bina Sehat, Mantan Bupati Jember Faida Diperiksa Kejaksaan
Nusantara

Uang Negara Diduga Mengalir ..

02 Maret 2021 04:40
Sepuluh Hari Divaksin, Ketua IDI Lampung Masih Terjangkit Covid-19
Nusantara

Sepuluh Hari Divaksin, Ketua..

02 Maret 2021 03:18
Melanggar Aturan, Penerobos Ring 1 Istana Akhirnya Ditilang
Nusantara

Melanggar Aturan, Penerobos ..

02 Maret 2021 01:45
Diduga Palsukan Data Pasien Covid-19, RSUD Karanganyar Dilaporkan Ke Polisi
Nusantara

Diduga Palsukan Data Pasien ..

02 Maret 2021 01:10
Terpilih Aklamasi, Lamberthus Jitmau Resmi Pimpin Golkar Papua Barat
Nusantara

Terpilih Aklamasi, Lamberthu..

02 Maret 2021 00:56
Resmikan Travelator Masjid Agung Sidoarjo, Khofifah: Akan Permudah Jamaah Lansia Beribadah
Nusantara

Resmikan Travelator Masjid A..

02 Maret 2021 00:23
Usai Sertijab, Penerus Risma Tancap Gas Blusukan Pantau Saluran Air
Nusantara

Usai Sertijab, Penerus Risma..

01 Maret 2021 23:33
Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta Gagalkan Pengiriman Sabu Asal Malaysia
Nusantara

Bea Cukai Bandara Soekarno-H..

01 Maret 2021 22:21