Ditjen Bimas Islam: Indonesia Sebagai Megadiversity Country Perlu Instrumen Yang Powerfull Dan Strategis

Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin, dalam acara Podcast To The Point Bimas Islam, Sabtu 20 Februari 2021/Repro

Indonesia sebagai negara paling majemuk, memiliki tantangan besar dalam mengatasi keberagaman budaya. Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan, untuk mengatasi keberagaman budaya tersebut dibutuhkan sebuah instrumen.
"Kita adalah bangsa yang multi cultural, yang memiliki tingkat keragaman yang sangat luar biasa. Saya menyebutnya sebagai megadiversity country. Oleh karena itu membutuhkan sebuah instrumen untuk bisa memanage diversity ini," ujar Kamaruddin Amin, dalam acara Podcast To The Point Bimas Islam, Sabtu (20/2).

Menurutnya, salah satu instrumen yang dirasa paling powerful, strategis, dan diasumsikan bisa mengatasi diversity ini adalah moderasi dalam beragama.  

"Ini adalah sebuah instrumen yang secara global sesungguhnya bukan hanya di Indonesia, sebuah gerakan Global, menurut saya," lanjut Kamaruddin.  

Moderasi beragama telah lama digencarkan di banyak negara, contohnya di Kairo dan Jordan. Raja Jordan sendiri telah mendeklarasikan The Amman Message yang gaungnya luar biasa.

Bahkan di Eropa, Amerika, menurut Kamaruddin, moderasi beragama menjadi isu global.

"Ini yang perlu dibunyikan ya, perlu diimplementasikan dan apalagi dalam konteks Indonesia sebagai the most diverse country, ini sebuah keharusan sebuah keniscayaan, kemestian untuk kita promosikan," lanjut Kamaruddin.

Ia mengutip sebuah statement dari seorang teolog liberal Kristen yang bernama Albert Hans Kung,

No peace among the nations, without peace among the religions. No peace among the religions, without dialogue between the religions. No dialogue between the religions, without investigation of the foundation of the religions.

Tidak ada kedamaian di dalam sebuah bangsa tanpa kedamaian antar agama, dan tidak ada kedamaian antar agama tanpa dialog antar agama, tidak ada dialog antar agama tanpa investigasi mendalam terhadap pondasi-pondasi agama.

"Jadi setiap kita, apa pun agamanya harus melakukan investigasi fundamental terhadap agama kita. Islam harus paham dengan agama dengan benar, Kristen juga demikian. Semua agama harus memahami itu," katanya.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021

Artikel Lainnya

Resmi Jadi Ketua PAN Dharmasraya, Ade Sudarman Bertekad Naik Kelas Dari Tiga Besar
Nusantara

Resmi Jadi Ketua PAN Dharmas..

06 Maret 2021 16:51
Kesaksian Teman: Integrtitas Artidjo Sudah Terlihat Sejak Mahasiswa
Nusantara

Kesaksian Teman: Integrtitas..

06 Maret 2021 11:53
Masyarakat Bengkulu Diguncang Gempa Magnitudo 4,9
Nusantara

Masyarakat Bengkulu Diguncan..

06 Maret 2021 02:39
Tingkat Kesembuhan Covid-19 DKI Capai 96,3 Persen
Nusantara

Tingkat Kesembuhan Covid-19 ..

05 Maret 2021 21:32
Ketua Senator Sayangkan 63 Ribu Hektar Aset Jatim Belum Tersertifikasi
Nusantara

Ketua Senator Sayangkan 63 R..

05 Maret 2021 19:25
Soroti Konsep Petani Milenial, DPRD Jabar: Masih Gamang Dan Berubah-ubah
Nusantara

Soroti Konsep Petani Milenia..

05 Maret 2021 18:53
Polres Pesawaran Ungkap Pembalakan Liar Di Register 21 Wan Abdul Rahman
Nusantara

Polres Pesawaran Ungkap Pemb..

05 Maret 2021 18:08
Kader Muda Demokrat: KLB Sibolangit Hanya Kongkow Luar Biasa
Nusantara

Kader Muda Demokrat: KLB Sib..

05 Maret 2021 16:12