Dengan Deklarasi Djuanda, Ada Beban Yang Dipikul Bangsa Indonesia

Dialog Back Azimuth bertajuk 'Deklarasi Djuanda dan Kita' pada Minggu, 13 Desember 2020/Repro

Keberhasilan Indonesia melipatgandakan wilayah dengan Deklarasi Djuanda tidak bisa hanya dipandang sebagai sebuah pencapaian.

Alih-alih, ada beban yang harus dipikul, yaitu memanfaatkan wilayah tersebut sebaik mungkin untuk kesejahteraan bangsa Indonesia.

Sejarawan nasional, DR Anhar Gonggong mengatakan, esensi kemerdekaan harus ditambah dengan memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh bangsa Indonesia.

"Kita sudah berdiplomasi selama sekian tahun dan berhasil. Nah kita punya wilayah tambah luas... Tapi di balik itu sebenarnya ada persoalan besar, bagaimana kita memfungsikan (wilayah)," terangnya dalam Dialog Back Azimuth bertajuk 'Deklarasi Djuanda dan Kita' pada Minggu malam (13/12).

"Jadi dengan Deklarasi Djuanda, maka ada beban bagaimana kita mewujudkan makna dari luasnya wilayah itu," tambahnya.

Terkait pemanfaatan wilayah, Anhar menyoroti bagaimana wilayah laut dan udara Indonesia dinikmati oleh asing, daripada bangsa sendiri.

Sebagai sebuah negara maritim, ia mengatakan, bangsa Indonesia pun mengabaikan laut yang seharusnya dimanfaatkan.

"Kalau kita mau jujur, yang paling miskin di antara kelompok penduduk itu nelayan. Hampir semua nelayan di Indonesia itu ada di wilayah yang penuh dengan kemiskinan. Padahal wilayah lautnya bertambah," tutur Anhar.

Oleh karena itu, Anhar mengatakan, Deklarasi Djuanda bukan hanya harus dibanggakan, tetapi perjuangannya harus diteruskan dengan mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh bangsa Indonesia.

"Dan sebenarnya salah satu makna dari Deklarasi Djuanda adalah keadilan. Kita mengambil hak kita, diakui, dan kita berhasil memperolehnya. Nah bagaimana kita menggunakannya?" tandasnya.

Selain Anhar, sejumlah narasumber juga hadir dalam Dialog Back Azimuth digelar oleh Masyarakat Garis Depan Nusantara tersebut. Mereka adalah Menteri Perikanan dan Kelautan 1999-2001 Sarwono Kusumaatmadja, KSAL ke-24 Laksamana TNI Prof. Dr. Marsetio, Duta Besar RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno, perwakilan Kelompok Keilmuan Geodesi ITB Prof Hasanudin Zainal Abidin,  dan anggota Ekspedisi Garis Depan Nusantara Aditya Prabowo.

Kolom Komentar


Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021
Video

RMOL World View • Diplomasi Halal Saat Pandemi

Senin, 08 Maret 2021

Artikel Lainnya

Saat Anies Baswedan Borong Roti Dari Toko Legendaris Di Senen
Nusantara

Saat Anies Baswedan Borong R..

09 Maret 2021 00:01
Kidsloop Gandeng Rumah Kisah Hadirkan Pendidikan Interaktif Bagi Anak-anak
Nusantara

Kidsloop Gandeng Rumah Kisah..

08 Maret 2021 23:19
Tekan Penyebaran Covid 19, Gubernur Khofifah Perpanjang PPKM Mikro
Nusantara

Tekan Penyebaran Covid 19, G..

08 Maret 2021 22:23
KSAD Dan Seluruh Jajaran TNI AD Mulai Jalani Vaksinasi Covid-19
Nusantara

KSAD Dan Seluruh Jajaran TNI..

08 Maret 2021 22:16
Gelombang Kedua, KSAD Jenderal Andika Kembali Kirim Prajurit Ke Istiqlal
Nusantara

Gelombang Kedua, KSAD Jender..

08 Maret 2021 21:12
Di Jakarta, Ada 7.439 Orang Sedang Berjuang Sembuh Dari Covid-19
Nusantara

Di Jakarta, Ada 7.439 Orang ..

08 Maret 2021 20:35
Kapal Tongkang Di Gili Ketapang Tenggelam Akibat Kelebihan Beban
Nusantara

Kapal Tongkang Di Gili Ketap..

08 Maret 2021 18:52
Antisipasi Masuknya B117, KKP Bandara Soekarno-Hatta Perketat Pengawasan
Nusantara

Antisipasi Masuknya B117, KK..

08 Maret 2021 18:49