Danang Wicaksana: Mulailah Menanam Demi Masa Depan Kehidupan Manusia

Danang Wicaksana Sulistya, saat menanam sejumlah pohon beringin di puncak Bukit 76, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, Minggu (26/7)/Istimewa

Bumi adalah rumah bersama bagi manusia, karena dari sinilah sumber kehidupan dan sumber kebutuhan hidup berawal. Sehingga merawat bumi melalui memelihara lingkungan hidup adalah sangat penting dan strategis demi masa depan generasi berikut.

Oleh karenanya, menanam pohon ataupun tidak membuang sampah di tempat sembarangan, sebagai contoh, merupakan langkah kecil yang dapat dilakukan oleh siapa saja.

Hal itu ditegaskan politikus Partai Gerindra, Danang Wicaksana Sulistya (DWS), saat menanam sejumlah pohon beringin (ficus benjamina) di puncak Bukit 76, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, Minggu (26/7).

Dikatakan DWS, jika masing-masing penduduk menanam di sekitar daerah pemukimannya, niscaya bumi akan memberikan kehidupan yang lebih baik kepada manusia.

"Selain untuk menahan erosi, perakaran beringin menurut beberapa sumber yang saya baca mampu mengikat air. Sehingga diharapkan turut serta dalam upaya mengkonservasi sumber air di Sleman. Yang kita lakukan adalah demi masa depan generasi Indonesia. Mulailah menanam agar bumi juga memberikan kehidupan bagi masyarakat Indonesia mendatang," kata DWS melalui keterangannya, Selasa (28/7).

Mengenakan kaos bertuliskan "Merapi tak pernah ingkar janji", politikus muda ini menegaskan vitalnya fungsi pepohonan untuk kelangsungan hidup masyarakat yang bermukim di lereng Merapi. Menurut DWS, upaya penanaman harus terus dilakukan karena dirinya kerap mendapatkan keluhan petani sekitar yang mengadu kesulitan mendapatkan air.

DWS pun kembali mengingatkan, menanam itu tidak hanya untuk yang sekarang tetapi untuk masa depan yang lebih baik.

Tahun ini, tambah DWS, Indonesia memikul tanggungjawab untuk merealisasikan angka kontribusi nasional penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Februari silam memastikan, Indonesia tidak mengubah target penurunan angka emisi sebesar 29 persen. Bahkan, target yang tercantum dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) itu akan dinaikkan hingga 41 persen pada 2030.

Untuk itulah, kepada sejumlah pemuda yang turut dalam kegiatan penanaman, DWS mengajak untuk terus menggali kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Menurut dia, pemerintah Indonesia tidak dapat dibiarkan melakukan upaya-upaya pelestarian sendiri tanpa andil masyarakat.

Karena, meskipun angka target penurunan emisi itu merupakan komitmen yang diserahkan Negara kepada Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC), kontribusi rakyat tetaplah penentu kesuksesannya.

"Tugas kita sebagai warga negara salah satunya mendukung upaya pemerintah, caranya bisa dengan ikut menanam di lokasi-lokasi kritis seperti ini. Apalagi ini sangat terkait masa depan lingkungan bagi anak cucu kita kelak," ungkap DWS.

Sementara terkait ketersediaan air, DWS mengaku telah memberikan perhatian lebih. Data-data warga yang mulai kehilangan sumber air sejauh ini terus dikumpulkannya dari berbagai laporan warga. Saat ini yang bisa dia lakukan hanya berusaha ambil bagian dalam menghijaukan daerah tangkapan air yang rusak oleh berbagai sebab.

DWS enggan menyalahkan kondisi lingkungan saat ini. Menurut dia, semua bergantung kepada niat dan cara mencari jalan keluar bersama. Jika dilakukan dengan pendekatan yang baik dan dialog, DWS yakin banyak kegiatan ekonomi dapat dilakukan selaras dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup.

"Intinya, kita lakukan dari hal paling kecil, paling dekat, dan paling cepat yang kita bisa. Ikut tanam pohon misalnya," tutur DWS.

Seusai menanam, DWS menitipkan pohon-pohon beringin itu kepada para pemuda sekitar untuk dijaga dan dirawat.

Rendy Patria, salah seorang pemuda yang turut dalam penanaman mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada DWS. Rendy menyadari bahwa kerusakan alam akan memunculkan berbagai pandemik yang mengancam kehidupan manusia.

Disadari Randy, pemuda seusianya yang sering disebut sebagai generasi milenial perlu diajak untuk memahami dan memelihara lingkungan hidup, karena ini sesuatu yang nyata dan bukan maya.
EDITOR: AGUS DWI

Kolom Komentar


Video

Wanita Terbakar Dalam Mobil di Sukoharjo, Diduga Korban Pembunuhan

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

DENDI RAMADHONA DAN PESAWARAN

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

Diduga Melanggar, Bawaslu Panggil Calon Bupati Semarang

Kamis, 22 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Libur Panjang, Lebih Dari 500 Ribu Kendaraan Tinggalkan Ibukota
Nusantara

Libur Panjang, Lebih Dari 50..

30 Oktober 2020 13:05
Alasan Perumnas Pesawaran Residence Tutup Akses Jalan Dibantah Pengelola Ponpes Darul Ulum Pesawaran
Nusantara

Alasan Perumnas Pesawaran Re..

30 Oktober 2020 10:59
Kecam Pesepeda Lintasi JLNT Casablanca, Nasdem: Jangan Cuma Fisiknya Yang Sehat, Tapi Otaknya Sakit
Nusantara

Kecam Pesepeda Lintasi JLNT ..

30 Oktober 2020 10:49
Oknum Guru Ajak Murid Tak Pilih Ketua OSIS Non-Muslim, Politikus PKS Minta Publik Jangan Langsung Menghakimi
Nusantara

Oknum Guru Ajak Murid Tak Pi..

30 Oktober 2020 10:36
Alasan Bioskop Belum Beroperasi Walau Sudah Ada Lampu Hijau
Nusantara

Alasan Bioskop Belum Beroper..

30 Oktober 2020 07:47
Wiku Adisasmito: 54 Daerah Masuk Zona Oranye Harus Segera Lakukan Evaluasi Menyeluruh
Nusantara

Wiku Adisasmito: 54 Daerah M..

30 Oktober 2020 03:15
Targetkan Partisipasi Pilkada 80 Persen, KPUD Serang Gandeng Ormas, OKP Dan LSM
Nusantara

Targetkan Partisipasi Pilkad..

30 Oktober 2020 02:55
Arus Kendaraan Masih Tinggi, Polisi Alihkan Jalur Bandung Menuju Garut
Nusantara

Arus Kendaraan Masih Tinggi,..

30 Oktober 2020 01:32