Status Kiamat Serangga, LIPI Sampaikan Keselamatan Bumi Terancam

Serangga membntu penyerbukan/Net

Laju penurunan serangga terus terjadi. Padahal, keberadaan serangga sangat penting. Serangga adalah makanan bagi hewan lain. Keberadaannya pun sebagai penyerbuk dan juga pengontrol hama.

Djunijanti Peggie, peneliti bidang Entomologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, mengatakan, serangga sangat penting untuk pengelola limbah dan pengurai jasad manusia maupun hewan.

“Jadi bayangkan jika serangga punah, akan banyak jasad yang menumpuk dan tidak terurai”, ungkap Djunijanti, seperti dikutip dari situs resmi LIPI, Minggu (7/6).

Menurutnya, isu penurunan serangga sudah nyata terlihat.

“Penyebab utama penurunan populasi serangga adalah alih fungsi lahan, perubahan iklim, penggunaan pestisida dan pupuk sintetis, serta adanya faktor biologis termasuk patogen dan spesies invasif,” terangnya.

Saat ini baru 20 persen serangga dari 5,5 juta serangga di dunia yang teridentifikasi. Sisanya 80 persen dari populasi tersebut dan jumlahnya terus berkurang.

Pada 2017, laporan Caspar Hallman dari Universitas Radboud, Belanda, menemukan bahwa populasi serangga terbang di cagar alam Jerman menurun lebih dari 75 persen selama 27 tahun terakhir. Bahkan, Bayo dan Wyckhuys melaporkan penurunan serangga tetap terjadi meskipun di kawasan cagar alam yang masih belum terjamah.

Lantas, bagaimana jika laju penurunan serangga terus terjadi? Tentunya keselamatan bumi akan terancam. Serangga dan tumbuhan adalah penyusun dasar kehidupan. Peran serangga sangat vital dalam ekosistem.

Ia pun mengingatkan sudah saatnya setiap individu berkontribusi untuk menekan laju penurunan serangga yang terjun bebas. “Status kiamat serangga saya setuju dan sangat menghawatirkan," jelas Djunijanti.

Saat ini LIPI terus berupaya melakukan upaya pendataan serangga. Djunijanti menekankan, penurunan biomassa perlu dicermati secara detail. Artinya, belum terlihat jenis serangga yang terancam sehingga belum dapat melakukan prioritas. Oleh karena itu perlu dilakukan pendataan terlebih dahulu.

Sebagai contoh, kupu-kupu Graphium codrus yang digunakan sebagai foto sampul majalah National Grographic Indonesia pada Mei 2020 bukanlah kupu-kupu endemik Indonesia, tidak langka, dan tidak terancam punah.

“Namun dengan status bukan endemik, bukan langka, dan tidak terancam punah ini pun ternyata jumlah spesimen Graphium codrus di Museum Zoologicum Bogoriense hanya ada 21 spesimen dari empat sub-spesies,” terang Djunijanti.

Bukan itu saja. Ia mengungkapkan masih ada empat subs-pesies di pulau-pulau kecil yang belum ada spesimennya di Museum Zoologicum Bogoriense. Kondisi ini menunjukkan bahwa menemukan kupu-kupu tak langka pun sudah cukup sulit.

Apalagi, lanjut Djunijanti, mendata dan memperoleh spesies yang tergolong endemik dan langka seperti Ornithoptera Croesus yang merupakan spesies endemik di Maluku Utara dan baru dimasukkan dalam daftar spesies dilindungi di Indonesia pada 2018.

Untuk kepentingan pendataan dan digitalisasi spesimen kupu-kupu, Djunijanti mengatakan bahwa LIPI telah mendapatkan dana dari Global Biodiversity Information Facility untuk penelitian itu.

LIPI juga membuka kesempatan kepada publik untuk mengkontribusikan spesies yang telah ditemukan.

“Masyarakat dapat mengirimkan koleksi dalam bentuk foto spesies dengan melengkapi data tempat dan waktu ditemukan. Koleksi tersebut dapat menjadi data observasi, salah satunya dalam InaBIF,” ujarnya.

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi, menambahkan pendataan serangga akan menjadi salah satu dasar untuk menyatakan status kepunahan.

Menurutnya, negara maju sudah memiliki perbandingan data serangga dari tahun ke tahun, sedangkan di Indonesia baru sebatas memiliki koleksi spesimen.

"Inilah yang dianggap sebagai kondisi kritis eksistensi serangga,” terang Cahyo.

Ia menyebutkan status hewan yang tidak langka dan belum masuk daftar merah belum tentu aman, karena masih sedikit orang yang memperhatikan serangga.

“Diperlukan perubahan perilaku masyarakat untuk menghargai keberadaan makhluk kecil tersebut,” tegasnya.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Wanita Terbakar Dalam Mobil di Sukoharjo, Diduga Korban Pembunuhan

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

DENDI RAMADHONA DAN PESAWARAN

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

Diduga Melanggar, Bawaslu Panggil Calon Bupati Semarang

Kamis, 22 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Pembelaan Demokrat, Sekdaprov Jatim Telah Jalankan Program Unggulan Khofifah-Emil
Nusantara

Pembelaan Demokrat, Sekdapro..

24 Oktober 2020 00:45
Diduga Korupsi ADD, Oknum Bendahara Desa Diamankan Polres Serang Kota
Nusantara

Diduga Korupsi ADD, Oknum Be..

24 Oktober 2020 00:16
Khofifah Instruksikan Dekranasda Jatim Gencarkan Literasi Digitalisasi UMKM
Nusantara

Khofifah Instruksikan Dekran..

23 Oktober 2020 23:30
Dirjen Otda: Pilkada Menjadi Orkestrasi Perlawanan Terhadap Covid-19
Nusantara

Dirjen Otda: Pilkada Menjadi..

23 Oktober 2020 22:39
Ahli Waris Pasien Covid-19 Yang Meninggal Dapat Santunan 15 Juta, Ini Syaratnya
Nusantara

Ahli Waris Pasien Covid-19 Y..

23 Oktober 2020 21:38
Belajar Dari Pengalaman, Wagub DKI Imbau Warga Diam Di Rumah Saat Libur Panjang
Nusantara

Belajar Dari Pengalaman, Wag..

23 Oktober 2020 21:20
Jelang Libur Panjang, Pemkot Bandung Wanti-wanti Wisatawan Patuhi Protokol Kesehatan
Nusantara

Jelang Libur Panjang, Pemkot..

23 Oktober 2020 18:54
Resmikan Jalur Khusus Sepeda, Dishub Semarang Ingatkan Larangan Saat Bersepeda
Nusantara

Resmikan Jalur Khusus Sepeda..

23 Oktober 2020 18:19