Jumlah Pengungsi Terus Bertambah, Pemerintah dan UNHCR Tak Kunjung Menemukan Solusi

Jumat, 12 Juli 2019, 15:46 WIB
Laporan: Aprilia Rahapit

Pengungsi di Kebon Sirih/RMOL

Pengungsi dan para pencari suaka di Indonesia kian hari kian bertambah banyak. Jika dibiarkan tentu bisa menimbulkan masalah yang lebih besar. Namun, hingga kini belum ada solusi untuk mengatasi masalah ini.

Saat ini Indonesia memiliki 14 ribu pengungsi dari berbagai negara. Khusus di wilayah Jakarta, Pemprov DKI mencatat eks pengungsi di Kebon Sirih mencapai 1.155 orang. Terbagi menjadi laki-laki dewasa 766 orang, perempuan dewasa 389 orang, anak-anak perempuan 155 orang, dan anak-anak laki-laki 171 orang.

"Itu (total pengungsi) eks Kebon Sirih," ungkap Kepala Badan Kesbangpol Pemprov DKI, Taufan Bakri kepada Kantor Berita RMOL, Jumat (12/7).

Jumlah tersebut termasuk mereka yang baru lahir di sini. Seperti dari ratusan pengungsi di jalan Kebon Sirih yang kini sudah dipindahkan ke Eks Kodim Kalideres, terdapat satu bayi berusia satu bulan. Juga ada beberapa anak berusia 1 hingga 15 tahun. Selain itu, ada empat wanita pengungsi yang diketahui sedang mengandung.

Padahal untuk makan dan minum, mereka hanya bergantung dari bantuan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan International Organization Migration (IOM). Ada juga bantuan dari masyarakat atau warga Indonesia yang berbelas kasihan.

"Pengungsi itu sekarang faktanya ada yang hamil, yang tadinya nggak hamil jadi hamil, jumlahnya semakin meningkat. Bukan nambah yang masuk, tapi meningkat karena ada yang melahirkan," ungkap Bidang Analisis Imigrasi Direktorat Jenderal Imigrasi Agung Sampurno saat dihubungi Kantor Berita RMOL, Jumat (12/7).

Masalah ini harusnya segera diselesaikan. Sayangnya kata Agung solusinya masih belum ditemukan.

"Masalahnya, penyelesaiannya itu yang belum ketemu sampai sekarang. Itu salah satu problem yang perlu dicarikan solusinya segera," imbuh dia.

Sementara itu, kata Agung, UNHCR berkeinginan agar Indonesia meratifikasi pengungsi. Jika tidak, UNCHR meminta Indonesia mengizinkan para pengungsi untuk berasimilasi. Opsi lain dari UNCHR adalah meminta Indonesia mengizinkan para pengungsi untuk bekerja.

"Keinginan itu di Indonesia nggak tahu harus kemana. Instansi yang menangani itu berbeda-beda tidak seperti di negara yang sudah meratifikasi, sudah clear. Ini memang menjadi PR yang harus segera diselesaikan," tuturnya.

Agung mengamati, hingga lima tahun ke depan negara-negara yang awalnya memiliki komitmen membantu para pengungsi, bisa jadi memperketat bahkan mengurangi penerimaan pengungsi.

"Di Asia, Australia sudah enggak (menerima pengungsi), Nauru pun ditutup. Nah ini menjadi PR besar yang harus segera diselesaikan," tegasnya.

Sementara solusi dengan jalan persuasif , tambah Agung, sudah tidak mempan lagi. Kerap kali para pengungsi menolak untuk diberi pemahaman. Terlebih para pengungsi itu memiliki komunitas dengan diketuai oleh sesepuh yang sulit diajak bekerjasama.

"Kita dekati, biasanya mereka punya tokoh masyarakat tuh, orang yang disegani. Persuasif melalui mereka sudah. Persoalannya, di antara mereka punya karakter budaya yang keras-keras," jelas Agung.

"Dia bilang malah 'it's not your business, this is our business'," tandasnya.
EDITOR: AGUS DWI

Kolom Komentar


Video

PASANG SURUT CALON KETUA UMUM PAN

Kamis, 19 September 2019
Video

Kata TB Ace Hasan Syadzily Soal Stok Kader Golkar

Sabtu, 21 September 2019
Video

Ace Hasan Syadzily: Manuver Bambang Soesatyo Biasa Saja

Sabtu, 21 September 2019