NU-Circle Apresiasi Penyelenggara Pemilu dan Aparat Keamanan

Selasa, 23 April 2019, 09:06 WIB
Pemilihan Umum serentak untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota usai digelar, pada Rabu (17/4) lalu.

Untuk itu, Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Profesional Nahdlatul Ulama (NU-Circle), Gatot Prio Utomo, di Jakarta, Senin (22/4), menyampaikan, apresiasi setinggi-tingginya pada semua pihak yang telah berperan atas suksesnya penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

"Apresiasi saya sampaikan pada seluruh rakyat Indonesia, yang telah berpartisipasi dalam Pemilu 2019," ujarnya. Dia menyebutkan, sedikitnya 80,90 persen dari total 192.828.520 pemilih, yang tersebar di dalam maupun luar negeri, menyampaikan hak suaranya.  

Gatot mengutarakan penghargaannya pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) beserta jajarannya. Termasuk PPK, PPS, dan KPPS, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) serta jajarannya, dan seluruh lembaga/organisasi pemantau pemilu.

Tak lupa Ketua umum NU-Ciecle itu, mengucapkan rasa terimakasihnya pada TNI dan Polri. Yang telah memberikan jaminan rasa aman, pada seluruh tahapan Pemilu.

Walau begitu, dikemukakannya, NU-Circle tetap terus mencermati dinamika pasca pencoblosan, yang berkembang di masyarakat luas, "Karenanya, NU Circle menyatakan sikap," ujarnya.

Terkait hal itu, Sekretaris jenderal (Sekjen) NU-Circle Abdullah Baidlowi menyatakan, ada tujuh butir pernyataan sikap yang disampaikan NU-Circle.

Pertama, NU-Circle meminta semua pihak agar menghormati setiap proses dan tahapan pemilu dengan mempercayakan prosesnya kepada KPU sebagai lembaga resmi negara yang bertugas menyelenggarakan pemilu dan Bawaslu sebagai lembaga resmi negara yang mengawasi penyelenggaraan pemilu.

Kedua, semua pihak agar berperan aktif bersama-sama mengawal proses penghitungan suara di semua tingkatan mulai dari TPS, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga ke KPU Pusat.

Ketiga, semua bentuk kecurangan yang ditemukan dalam setiap tahapan penyelenggaraan pemilu, harus ditindaklanjuti sesuai dengan mekanisme yang telah diatur dalam perundang-undangan yang berlaku.

Keempat, menghargai proses hitung cepat (quick count) yang memanfaatkan metodologi ilmiah serta norma-norma yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik, sebagai sebuah ikhtiar dari para intelektual dan profesional guna mengetahui hasil pemilu secara lebih cepat dan akurat.

Kelima, meyakini hasil quick count yang dilakukan secara benar dapat menjadi salah satu referensi terpercaya untuk memprediksi hasil pemilu, akan tetapi hasil resmi tetaplah mengacu kepada penghitungan real count yang dilakukan oleh KPU.

"Oleh karena itu kami mengimbau agar semua pihak bersabar menunggu penetapan resmi KPU," ujar Baidlowi.

Keenam, selama menunggu penetapan oleh KPU, agar para elite partai politik, tim sukses, dan pendukungnya tidak memberikan pernyataan yang mengganggu kondusivitas proses pelaksanaan penghitungan suara serta menghentikan seluruh bentuk provokasi, saling klaim dan penggiringan opini yang berpotensi meresahkan masyarakat luas.

Ketujuh, pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat luas terutama intelektual dan profesional untuk ambil bagian dalam upaya merekatkan tali silaturahim, membangun semangat persatuan dan persaudaraan, melanjutkan karya dan menorehkan prestasi untuk kemajuan serta kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tag:

Kolom Komentar


loading