Pendidikan Karakter Bangsa Harus Dipaksakan

Rabu, 06 Maret 2019, 15:24 WIB | Laporan: Widya Victoria

Sri Yunanto/Net

Salah satunya ciri dan kultur berbangsa dan bernegara di Indonesia yaitu sopan, santun, toleran, dan saling menghormati semakin menghilang di tengah kehidupan masyarakat, terutama generasi muda.

Kondisi ini membuat imunitas anak bangsa dari ‘serangan’ ideologi dan paham asing sangat rentan. Karena itulah pengajaran pendidikan karakter, baik melalui secara konvensional maupun melalui literasi digital harus dipaksakan kepada generasi bangsa.

"Harus dipaksakan dan semua harus mengikuti, karena ini jati diri bangsa. Apakah melalui kurikulum pendidikan atau melalui dunia digital. Kita semua tahu fenomena media sosial (medsos) ini sangat luar biasa. Kalau bangsa kita lengah, akan sangat berbahaya,” ujar Staf Ahli Menko Polhukam, Sri Yunanto di Jakarta, Rabu (6/3).

"Ini menjadi tanggung jawab semua, pemerintah, masyarakat, lingkungan, dan keluarga," imbuhnya, menekankan.

Menurutnya, langkah pertama untuk kembali menguatkan karakter bangsa itu dengan memberikan pondasi pendidikan, terutama penguatan ideologi bangsa.

Itu bisa dilakukan dengan memberikan pemahaman lagi tentang 4 Pilar Kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika melalui kurikulum pendidikan maupun kampanye di media sosial.  

Ia optimistis bila generasi bangsa mempunyai pemahaman utuh tentang 4 Pilar Kebangsaan itu, mereka pasti akan memiliki imunitas dan pembanding terutama saat mendapatkan pengetahuan baru dari dunia digital tentang ide kebebasan maupun paham transnasional.

“Mereka memang membaca pengetahuan baru itu, tetapi mereka pasti akan membandingkan dengan ideologi hakiki bangsa. Dengan begitu, mereka tidak akan mengikuti dan menolak paham tersebut," jelas dosen Politik Islam Universitas Indonesia ini.

Selain 4 Pilar Kebangsaan, menurut dia, ideologi agama juga harus disebarkan karena agama-agama di Indonesia mempunyai misi yang sama yaitu mengajarkan kebaikan, toleransi, perdamaian, dan moderasi.

Dengan memahami ideologi agama, generasi muda akan memilik saringan dalam menghadapi serangan ideologi asing.

Ketiga, lanjut Sri Yunanto, nilai-nilai luhur bangsa seperti gotong royong, tepo seliro, toleran, saling menghormati juga harus terus disematkan. Dan itu bisa sangat efektif diviralkan melalui medsos.

Dalam hal ini, keluarga menjadi poin penting dalam melindungi anak-anak dari ‘virus’ negatif di medsos.

“Kita tidak bisa mencegah anak kita menggunakan medsos, justru di tengah kemajuan jaman ini, kita justru harus menganjurkan kepada anak-anak untuk mengenalnya. Tapi itu tadi mereka harus memiliki nilai dasar bangsa sehingga mereka bisa memilah mana yang baik dan mana yang akan merusak,” paparnya

Selain literasi digital, pemerintah sebagai legitimate force bisa memaksa setiap warga dengan cara sah untuk mempelajari bela negara. Apalagi sekarang sudah adanya Inpres Nomor 7 tahun 2018 tentang bela negara.

Di situ bela negara tidak hanya melalui cara formal, tetapi juga informal. Pesertanya juga harus menyuluruh seperti pelajar, mahasiswa, aparat, pengusaha, bahkan TKI pun harus mengikuti  bela negara.

“Negara akan eksis bila didukung warga negaranya. Apalagi perkembangan siber hanya bisa ditangani kalau setiap warga negara punya satu mekanisme saringan sehingga ajaran bela negara, dipaksakan di semua lini masyarakat,” katanya.
Editor:

Kolom Komentar


Video

Kemesraan Jokowi-Prabowo Belum Berlalu

Senin, 15 Juli 2019
Video

Futsal 3 X Seminggu Tingkatkan Kecerdasan Otak

Selasa, 16 Juli 2019
Video

Garuda Perlu Tinjau Ulang Aturan Mengambil Foto dan Video

Rabu, 17 Juli 2019