Mengulas Misteri Kematian Bripka Matheus

Kamis, 03 Januari 2019, 09:52 WIB | Laporan: Mega Simarmata

Bripka Matheus/Dok

Kabar mengejutkan mencuat persis di penghujung tahun 2018. Seorang anggota Satgas Anti Teror Polda Metro Jaya atas nama Brigadir Kepala (Bripka) Matheus De Haan ditemukan tewas dengan luka tembak di bagian kepala di TPU Mutiara, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat.

Matheus merupakan anggota Polresta Depok yang saat ini di bawah kendali operasi (BKO) Satgas Antiteror Polda Metro Jaya.

Matheus dikebumikan di TPU Pal Sigunung Cimanggis dengan Inspektur Upacara Kapolres Depok Kombes Pol Didik Sugiarto, Selasa (1/1).

Hingga kini kabut misteri masih menyelimuti pemicu kematian Matheus itu. Muncul pertanyaan dibunuhkah Matheus? lantas Siapa yang membunuh?

Sebagai wartawati di kepolisian sejak 14 tahun terakhir, penulis ikut terkejut atas kabar kematian Bripka Matheus.

Kalau ia menjadi korban kriminalitas, penulis lantas berpikir, "Pasti Polres Depok akan cepat bisa menangkap pelaku penembakan".

Terlebih karena Polres Depok memiliki tim yang sangat handal mengatasi kasus-kasus kriminalitas yaitu Tim Jaguar.

Penulis sempat mengontak Tim Jaguar Polres Depok melalui pesan DM di Instagram:

"Pak Jaguar, apa gerangan yang terjadi? Siapa yang menembak? Kok jahat sekali"

Tim Jaguar Polres Depok segera membalas pesan saya:

"Masih di lidik, Bu. Mohon doanya".

Polda Metro Jaya sempat menyebut ada indikasi Matheus bunuh diri. Namun pemicu Matheus yang diduga nekat menembak kepalanya itu belum terungkap.

Sebab, Polda Metro Jaya masih menunggu hasil laboratorium forensik untuk memastikan penyebab kematian Bripka Matheus De Haan.

Tetapi dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan bukti-bukti sementara, ada indikasi korban diduga bunuh diri.

"Iya ada indikasi itu, tapi kita belum bisa memastikan apakah bunuh diri atau bukan. Hasil labfor belum keluar," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

Menurut mantan Kabid Humas Polda Jawa Timur itu, ada beberapa indikator korban Matheus bunuh diri. Salah satunya, dari rekaman CCTV, korban terlihat keluar dari rumah seorang diri.

"Yang bersangkutan sendiri (keluar rumah) ke TKP (TPU Pancoranmas), kemudian barang korban tidak ada yang hilang," imbuh Argo.

Indikasi korban bunuh diri dengan cara menembak kepala sendiri juga ditemukan dari hasil autopsi.

Jasad korban diautopsi di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Dari hasil autopsi itu adalah peluru tempel ada di kepala, di telapak tangan kanan ada jelaga dan mesiu," tambah Argo.

Argo menambahkan penyidik masih menyelidiki kasus ini. Petunjuk-petunjuk yang lain juga masih dicari.

"Kita masih cari petunjuk yang lain, baik itu dari tetangga, kantor, maupun lingkungan TKP," ujar Argo lagi.

Sedangkan pihak keluarga, hingga saat ini belum bisa memberikan keterangan kepada polisi.

"Keluarga belum bisa dimintai keterangan karena masih berduka," pungkas Argo.

Dengan adanya kasus kematian Bripka Matheus, berarti sudah 2 orang anggota Satgas Anti Teror Polda Metro Jaya yang meninggal dunia dalam 8 bulan terakhir dalam sangat tragis.

Yang pertama adalah Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiaji, yang gugur dalam kasus kericuhan dan penyanderaan yang terjadi di dalam rutan Mako Brimob, Kelapa Dua tanggal 8 Mei 2018.

Yang kedua Bripka Matheus, yang diduga mati bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri di sebuah komplek pemakaman.

Adakah indikasi Bripka Matheus terlihat depresi dalam beberapa hari?

Keluarga bisa saja tidak tahu kondisi psikologis Bripka Matheus karena sehari-hari Matheus bekerja.

Hal terakhir yang dilakukan Matheus sebelum kematiannya adalah ia sempat nonkrong di warung kopi.

Warung kopi dan hal ihwal kopi yang diminun itupun harus ikut diperiksa untuk menjadi tambahan informasi bagi polisi.

Kalau diduga bunuh diri, kondisi apa yang terjadi yang terjadi detik-detik atau menit-menit atau jam-jam terakhir sebelum kematiannya.

Makanan atau minunan yang masuk ke dalam tubuhnya bisa ikut mempengaruhi korban.

Intinya adalah sulit menerima dengan akal sehat tentang dugaan bunuh diri pada Bripka Matheus.

Tapi fakta di lapangan, keterangan saksi-saksi, keterangan serta hasil forensik, serta barang bukti yang didapat, bisa jadi berkata lain yang menguatkan dugaan tentang bunuh diri itu.

Satu kisah yang perlu jadi bahan perenungan bersama bahwa sebuah aksi balas dendam terhadap jajaran kepolisian yang menimpa seorang Anggota Satuan Intel Korps Brimob, Bripka Marhum Prencje, yang tewas usai ditusuk orang tak dikenal, di Halaman Mako Brimob pasca kasus penyanderaan bulan Mei 2018.

Bripka Marhum Prencje ditusuk orang tak dikenal (berisinial TS) di kawasan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (10/5/2018).

Penusukan terhadap Marhum sekitar pukul 23.45 WIB di Halaman Kantor Intelmob.

Peristiwa bermula saat Bripka Marhum tengah bertugas di depan Mako Brimob. Ia mencurigai aktivitas TS yang berada di depan Rumah Sakit Bhayangkara.

Lalu, Marhum membawa TS dengan berboncengan motor ke Mako Brimob. TS dibawa ke kantor Satintel Brimob saat itu.

Setibanya di kantor Satintel Brimob, TS mengeluarkan pisau dan menusuk korban. Dan pisau itu, disimpan dibalik selangkangan pelaku dan ujungnya sudah diberi racun.

Marhum gugur dalam tugasnya. Bisa jadi, Bripka Matheus pun demikian.

Jadi, jangan tutup kemungkinan lain yang bisa menjadi penyebab kematian Matheus.

Yang harus diingatkan kepada jajaran kepolisian adalah jangan berhenti pada dugaan bunuh diri semata terkait kematian Bripka Matheus.

Gali dan gali terus semua informasi. Terorisme bisa terjadi dalam rupa yang wujudnya dikemas seolah kematian itu menyerupai sebuah tindakan bunuh diri.

Menjaga republik ini dari semua potensi ancaman, resikonya memang sangat mahal.

Nyawa, termasuk yang sewaktu-waktu harus dikorbankan oleh aparat keamanan kita dalam menjaga Indonesia.

"Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami". [jto]
Editor: Sukardjito
Tag:

Kolom Komentar