Dubes Vatikan Sok Sibuk, Umat Katolik Papua Kecewa

Jumat, 02 Februari 2018, 15:33 WIB | Laporan: Arry Kurniawan

Tiga perwakilan umat Katolik Papua menghadap Dubes Vatikan di Jakarta mengadukan kasus dugaan pelecehan seksual dan penggelapan dana di lingkungan Keuskupan Sorong-Manokwari.

Tiga orang Papua asli (OPA) kecewa karena pengaduan mereka ditolak Kedutaan Besar Vatikan di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.

Mantan Ketua Dewan Paroki St. Arnoldus Janssen-Malanu Kota Sorong Philipus V. Woersok mengakui mereka sebetulnya sempat diterima Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Piero Pioppo sekira lima menit. Philipus datang bersama Hubertus Manep (tokoh umat dan Kepala Suku Merauke di Sorong) dan Semuel Bless (tokoh umat dari Kabupaten Maybrat).

"Itu pun tanpa mau mendengarkan pengaduan kami. Alasannya sibuk," katanya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (2/2).

Menurut dia, pihaknya datang membawa aspirasi umat Katolik Keuskupan Sorong-Manokwari terkait masalah penanganan kasus pelecehan seksual dan ketidakwajaran manajemen keuangan keuskupan.

"Malah sudah terjadi kekerasan serta ancaman pembunuhan terhadap pastor di lingkungan Keuskupan Sorong-Manokwari. Kasusnya sudah di kepolisian dan berkasnya sudah siap dilimpahkan ke kejaksaan. Saya mita uskup Sorong-Manokwari diganti," tambahnya

Birgitta Elna, pegiat perempuan di Papua menyatakan, tujuan tiga wakil umat Katolik dari Keuskupan Sorong-Manokwari itu sangat mulia. Namun mereka sangat kecewa dengan alasan birokratis dan hierarkis dari Kedubes Vatikan.

"Kalau yang bermasalah keuskupan masa mereka harus mengadu dulu ke keuskupan," kata Elna yang juga konsultan hukum dari Noken Solutions.

Elna sangat memahami keresahan jemaat sampai perwakilannya mengadu ke Kedubes Vatikan. Menurutnya itu sudah menandakan ada yang serius.

"Urgensinya mungkin ini sudah darurat sehingga mereka harus menyampaikan masalahnya langsung ke Kedubes Vatikan. Menurut saya ini sudah tidak sehat karena salah satu pastor juga sudah melakukan aksi yang mengancam dan mengintimidasi," ujarnya.

Menurut Elna, Dubes Vatikan diharapkan menjadi jembatan untuk menyampaikan aspirasi mereka ke pucuk pimpinan gereja Katolik di Vatikan.

"Menurut saya seharusya Dubes Vatikan bijak. Walau ada hierarki seharusya lebih dulu dilihat dulu urgesinya. Jangan karenna alasan hierarki masalah urgen yang mengancam keselamatan dan keutuhan umat malah diabaikan. Terkesan mengesampingkan suara umat," ujarnya. [rry]

Kolom Komentar


loading